Anemia Sel Sabit

                                                     MAKALAH PATOFISIOLOGI

ANEMIA SEL SABIT


 

 

 

 

 

 

 

 


Tugas terstruktur ini guna memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi

Dosen Pengampu: Hj. Nurul Qomariah, S.Pd, M.Pd

 


 

Tingkat I Reguler A

 

 

Program Studi DIII Teknologi Laboratorium Medik

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang

2016/2017


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia – Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ANEMIA SEL SABIT”.

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi. Dengan disusunnya makalah ini, semoga dapat menambah wawasan kami dan pembaca, aamiin.Dalam menyelesaikan makalah ini, kami selaku penulis telah banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini tim penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1.      Ibu Hj. Nurul Qomariah, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah Patofisiologi yang telah memberikan tugas mengenai makalah ini, sehingga pengetahuan kami mengenai tema makalah ini semakin bertambah.

2.      Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah turut membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat positif, guna penyusunan makalah yang lebih baik lagi di tugas selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semarang,   Februari 2017

 

 

 

Penulis


DAFTAR ISI

 

Judul ....................................................................................................................... i

Kata Pengantar ……............................................................................................... ii

Daftar Isi ……………………............................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang ............................................................................................ 1

B.     Rumusan Masalah ..  ................................................................................... 1

C.     Tujuan............................................................................................................1

BAB II PEMBAHSAN

A.    Pengertian Anemia Sel Sabit…....................……………………………..  2

B.     Penyebab  ……………………................................................…………..   2

C.     Manifestasi Klinis...........................................…………………………...   3

D.    Akibat Anemia Sel Sabit......................……………………………….....    5

E.     Gejala Anemia Sel Sabit.............................................................................. 6

F.      Patogenesis................................................................................................... 7

G.    Pemeriksaan...................................................................................................8

H.    Penatalaksanaan.............................................................................................9

I.        Pengobatan..................................................................................................10

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan ……………………………………………………………... 1

B.     Saran …………………………………………………………………..... 1

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….………. 1

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Anemia sel sabit adalah anemia hemolitik berat yang diakibatkan oleh defek molekul hemoglobin dan berkenaan dengan serangan nyeri. Anemia sel sabit atau penyakit sel sabit homozigot (Hb SS) adalah gangguan autosom resesif bawaan yang mempengaruhi pergantian valin dengan asam glutamat pada rantai hemoglobin. Ada varian anemia sel sabit yang lain dan yang paling banyak ditemui adalah Hb SB, Hb SD , Hb SE, Sel darah merah pada anemia ini kurang memiliki kemampuan dalam hal membawa oksigen dan juga memiliki angka dekstruksi yang lebih besar dibanding sel darah merah normal. Lama hidup sel sabit menurun hingga 10-30 hari (normalnya 120 hari).

Insiden penyakit pada orang afrika amerika diperkirakan 1 dari 12 orang dan insiden penyakit diperkirakan 1 dari 375. Sekitar 2000 bayi dilahirkan dengan penyakit sel sabit setiap tahun di amerika serikat, kematian paling sering terjadi pada anak yang berusia 1 sampai 3 tahun.

1.2 Rumusan Masalah

1.     Apa Pengertian Definisi Penyakit Anemia Sel Sabit?

2.     Apa Sajakah Etiologi Penyakit Anemia Sel Sabit?

3.     Bagaimana Tanda dan Gejala Penyakit Anemia Sel Sabit?

4.    Bagaimanakah Pemeriksaan Diagnostik dan Penatalaksanaan Medis Penyakit Anemia  Sel Sabit?

 

1.3. Tujuan

1.     Mengetahui  Penyakit  Anemia Sel Sabit

2.     Mengetahui Apa Sajakah Etiologi Penyakit Anemia Sel Sabit

3.     Mengetahui Tanda dan Gejala Penyakit Anemia Sel Sabit

4.     Mengetahui  Pemeriksaan Diagnostik dan Penatalaksanaan Medis Penyakit Sel Sabit.

 

       

 

 

 

      

 

 

      BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Anemia Sel Sabit

Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. (Brunner edisi 8, vol.2, hal.935)

            Anemia Sel Sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri.(Brunner edisi 8, vol.2, hal.943)

            Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal. (Noer Sjaifullah H.M, 1999, hal 535)

Anemia sel sabit adalah anemia hemolitik berat yang diakibatkan oleh defek molekul hemoglobin dan berkenaan dengan serangan nyeri. Anemia ini ditemukan terutama pada orang Mediterania dan populasi Afrika serta terutama pada orang kulit hitam. Defek ini adalah substansi asam mino tunggal dalam rantai B hemoglobin. Hemoglobin sabit memerlukan pembentukan serupa kristal bila terpajan pada tegangan oksigen rendah. Sel yang mengandung hemoglobin S ini menjadi berubah bentuk,kekakuan,dan berbentuk sabit bila dalam sirkulasi vena.

2.2 Penyebab atau Etiologi

            Anemia sel sabit adalah suatu gangguan resesif otosom yang disebabkan oleh pewarisan dua salinan gen hemoglobin defektif, satu dari masing-masing orangtua. Hemoglobin yang cacat tersebut, yang diberi nama hemoglobin S (HbS), menjadi kaku dan membentuk konfigurasi seperti sabit apabila terjpajan oksigen rendah. sel darah merah pada anemia sel sabit ini kehilangan kemampuannya berubah bentuk sewaktu melewati pembuluh darah yang sempit sehingga aliran darah ke jaringan di sekitarnya tersumbat. Hal ini menyebabkan iskemia (defisiensi darah pada suatu bagian, biasanya akibat konstriksi fungsional atau obstruksi aktual pembuluh darah) dan infark (kematian sel) di berbagai organ tubuh, terutama tulang dan limpa.Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati yang disebabkan oleh kelainan struktur hemoglobin.Kelainan struktur terjadi pada fraksi globin di dalam molekul hemoglobin.Penyakit sel sabit merupakan gangguan genetic resesif autosomal, yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari kedua orang tua. Oleh karena itu, pasien homozigot (Gelehertr,1999). Individu heterezigot  (gen abnormal diwariskan hanya dari salah satu orang tua). Substitusi asam amino pada penyakit sel sabit mengakibatkan penyusunan kembali sebagian besar molekul hemoglobin jika terjadi deoksigenasi (penurunan tekanan O2).Sel-sel darah merah kemudian mengalami elongasi dan menjadi kaku srta berbentuk sabit.Deoksigenasi dapat terjadi karena, eritrosit yang mengandung Hb S melewati sirkulasi mikro secara lebih lambat daripada eritrosit normal, menyebabkan deoksigenasi.Eritrosit Hb S melekat pada endotel, yang kemudian memperlambat aliran darah. Peningkatan deoksigenasi dapat mengakibatkan  SDM berada di bawah titik kritis dan mengakibatkan pembentukan sabit di dalam mikrovaskuler. Karena kekakuan dan bentuk membrannya yang tidak teratur, sel-sel sabit berkelompok, dan menyebabkan sumbatan pembuluh darah, krisis nyeri, dan infark organ (Linker , 2001).

Berulangnya episode pembentukan sabit dan kembali ke bentuk normal menyebabkan membran sel menjadi rapuh dan terpecah-pecah.Sel-sel kemudian mengalami hemolisis dan dibuang oleh system monosimakrofag.Dengan demikian siklus hidup SDM jelas berkurang, dan meningkatnya kebutuhan menyebabkan sumsum tulang melakukan penggantian.Anemia sel sabit merupakan bentuk anemia hemolitik congenital yang palinng sering terjadi.Anemia ini mengenai 1 dari 600 orang AfroAmerika, anemia sel sabit merupakan bentuk sel sabit yang paling sering terjadi.Hb S merupakan 75% sampai 95% hemoglobin; sisanya adalah Hb F yaitu sekitar 1$ sampai 20%.Diagnosis berdasarkan pada riwayat pasien, temuan-temuan fisik, dan evaluasi labortorium.Tes daya larut sel sabit dilakukan untuk memastikan adanya Hb S di dalam SDM.

Hemoglobin sabit (Hb S) berbeda dengan Hb dewasa normal karena substitusi asam glutamat pada posisi 6 rantai β oleh valin. Pada keadaan teroksigenasi fungsi Hb S normal. Bila Hb ini mengalami deoksigensi, interaksi antara valin β6 dan regio yang komplementer pada rantai β molekul yang berdekatan menyebabkan pembentukan polimer molekular bersusunan tinggi, polimer ini memanjang membentuk struktur filamen, yang beragregasi menjadi batang yang kaku, seperti kristal. Proses prolimerasi molekular ini menyebabkan sifat eritrosit sbait rapuh, berduri pada keadaan penurunan oksigenasi.

Penyakit anemia sel sabit ini ditemukan di Afrika, Timur Tengah, daerah Mediterania, dan India, yang diturunkan dengan sifat dominan autosomal. Sifat sel sabit ditemukan pada heterozigot (HbA-HbS) yang dalam hemoglobinnya khas mengandung 60% HbA dan 40% HbS. Pasien dengan sifat ini biasanya bebas gejala kecuali bila tekanan oksigen sangat rendah, misalnay di ketinggian dan penggunaan anestesia anoksik. Gambaran umumnya sangat baik. Prevalensi gen ini mungkin tinggi karena HbS melindungi dari efek malaria falcifarum yangs erius dan kadnag-kadang mematikan.

Anemia sel sabit terjadi pada homozigot (HbS-HbS). Hemoglobin yang abnormal membuat RBC rentan terhadap penurunan tekanan oksigen yang sangat kecil sekalipun. Ini menyebbakan fenomena seperti sabit dan sekuenstrasi abnormal disertai trombosis pada arteriol yang kecil. Selanjutnya bisa terjadi infark pada bagian manapun.

Anemia sel sabit ditandai dengan penyakit hemolitik kronis yang disebbabkan oleh destruksi eritrosit prematur yang sukar berubah bentuk dan rapuh. Manifestasi penyakit sel sabit lain yang dianggap berasal dari perubahan iskemik akibat oklusi vaskular oleh massa sel sabit. Perjalanan klinis anak yang terkan adalah khas disertai dengan kejadian-kejadian episodik intermitten, sering disebut sebagai “kritis”.

2.3 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang terjadi sebagai akibat dari penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan infark pada berbagai organ, seperti ginjal, paru, dan system saraf pusat.Bayi-bayi biasanya asimtomatik selama 5 sampai 6 bulan karena adanya hemoglobin fetus (Hb F), yang cenderung menghambat pembentukan sabit.Manifestasi klinis meliputi sindrom kegagalan-perkembangan, gangguan tumbuh dan kembang, dan seringnya episode inhfeksi bakteri, terutama infeksi pneumokokus. Pada awalnya limpa membesar; akan tetapi karena adanya infark berulang, limpa menjadi atropi dan tidak berfungsi sebelum anak berusia 8 tahun. Proses ini disebut sebagai autosplenektomi kerentanan terhadap infeksi menetap seumur hidup. Harapan hidup berkurang akibat infark yang menyebabkan gagal organ.

Tangan dan kaki bengkak, nyeri, meradang (sindrom tangan-kaki yang dikenal sebagai daktilitis) terdapat pada sekitar 20% sampai 50% anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Daktilitis disebabkan oleh iskemia dan infark tulang-tulang metacarpal dan metatarsal ; keadaan tersebut disertai demam.”Krisis” nyeri, rekuren, dan melemahkan merupakan penyebab utama morbiditas akibat penyakiit sel sabit.

Tempat yang paling sering terkena adalah abdomen, punggung, dada dan sendi. Krisis ini dieksaserbasi oleh infeksi atau dehidrasi, dapat menyerupai penyakit-penykit akut lain dan berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Insiden krisis menurun dengan bertambahnya usia. Dapat juga terjadi krisis aplastik, terutama pada anak-anak, disertai penghentiyan fungsi sumsum tulang yang intermiten dan penurunan jelas eritropoiesis serta jumlah retikulosit.Krisis sekuestrasi visera disertai pembentukan sabit dan pengumpulan darah, terutam di dada, merupakan penyebab utama kematian.

Sering terjadi tanda-tanda pada jantung akibat anemia  seperti takikardia atau bising. Dapat juga terjadi pembesaran jantung kongestif. Terkenanya ginjal dapat dibuktikan dengan adanya gangguan kemampuan pemekatan urine , dan infark berulang dapat menyebabkan nekrosis papilla dan hematuria. Infeksi atau infark paru berulang (atau keduanya) menggangu fungsi paru. Infark system saraf pusat (stroke),walaupun jarang, dapat menyebabkan berbagai derajat hemiplegia. Dapat ditemukan ulkus tungkai kronis di atas pergelangan kaki dan di sepanjang sisi media tibia. Karena meningkatnya pemecahan SDM , pasien sering terlihat ikterus dan mengalami kolelithiasis (batu empedu) yang sekunder akibat peningkatan bilirubin. Tampilan fisik berkisar dari kurus astenik hingga perkembangan normal.

Manifestasi klinis dilihat dari persistem:

a). Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah

b). Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah

c). Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB

d). Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria

e). Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam

f). Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta

g). Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak pada lengan dan kaki.

 

2.4. Akibat Anemia Sel Sabit

            Adanya penyumbatan pada pembuluh darah bisa menurunkan fungsi atau bahkan merusak organ-organ tubuh (seperti ginjal, limpa, hati, dan otak) akibat terhambatnya aliran darah. Akibatnya dapat terjadi:

  • Kebutaan akibat kerusakan pada retina sebagai efek dari terhambatnya aliran darah di dalam mata.
  • Sindrom dada akut dan hipertensi paru akibat sumbatan sel sabit di dalam pembuluh darah paru-paru. Kedua kondisi yang ditandai dengan gejala sesak napas ini tergolong mematikan.
  • Stroke akibat terhambatnya aliran darah di dalam otak.
  • Hipertensi paru organ dengan anemia sel sabit juga bisa mengalami tekanan darah tinggin di paru-paru. Komplikasi ini biasanya terjadi pada orang dewasa bukan anak-anak.
  • Batu Empedu Kerusakan sel darah merah menghasilkan zat yang disebut bilirubin. Tingkat bilirubin yang tinggi dapat menyebabkan batu empedu.
  • Ulkus kulit Anemia sel sabit dapat menyebabkan luka terbuka, yang disebut borok.

2.5 Gejala Anemia Sel Sabit

Penderita anemia sel sabit dapat menunjukkan berbagai gejala-gejala akibat kekurangan sel darah merah (anemia), berupa tubuh terasa lelah dan kurang bertenaga, detak jantung tidak teratur, dan sesak napas (terutama setelah melakukan aktivitas fisik).

Penyumbatan pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah sehingga penderita anemia sel sabit dapat merasakan nyeri yang tidak tertahankan.Episode ketika nyeri ini kambuh disebut sebagai sickle cell crisis.Diperkirakan penderita anemia sel sabit bisa mengalami kondisi ini sampai 14 kali dalam setahun (meskipun umumnya 1-2 kali), dengan durasi nyeri sekitar 5-7 hari.

Pada anak-anak, munculnya episode sickle cell crisis bisa dikenali dari pembengkakan pada tangan dan kaki. Seiring pertumbuhan usia, nyeri bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ke daerah perut, tulang dada, tulang belakang, panggul, dan iga.

Pertumbuhan anak-anak yang menderita anemia sel sabit berisiko terhambat karena mengalami defisiensi sel darah merah yang memasok nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Kondisi ini juga berisiko memperlambat masa pubertas mereka di usia remaja.

Selain itu, penderita dapat mengalami:

  • Gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina sebagai efek dari terhambatnya aliran darah di dalam mata.
  • Mudah terkena infeksi bakteri atau virus akibat rusaknya limpa (organ yang berfungsi melawan infeksi).
  • Tubuh tampak kuning (jaundice). Terjadi akibat penumpukan zat bilirubin bisa terjadi akibat kerusakan sel-sel darah merah secara cepat. Selain itu, kadar bilirubin yang tinggi juga bisa menyebabkan penyakit batu empedu apabila tumpukan zat tersebut mengkristal dan menyumbat saluran empedu.
  • Luka pada kulit akibat sumbatan di pembuluh darah kulit.
  • Priapisme atau ereksi berkepanjangan yang menimbulkan rasa sakit dan berisiko menyebabkan kerusakan pada penis serta kemandulan. Priapisme terjadi akibat penyumbatan aliran darah di dalam penis.
  • Pertumbuhan tertunda Sel darah merah bertugas menyuplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Kekurangan sel darah merah sehat dapat memperlambat pertumbuhan pada bayi dan anak-anak dan menunda pubertas pada remaja.

 

2.6 Patogenesis

            Pada hemoglobin S, Valin diganti oleh asam glutamat pada asam amino ke 6 rantai beta globin. Hal ini menurunkan muatan listrik sehingga pada sistem elektroforesis Hb S bergerak lebih lambat dari pada Hb A. Adanya Hb S mempengaruhi membran eritrosit, yakni: dehidrasi karena kehilangan air dan gram, akumulasi Ca++, pengikatan Hb pada membran, inaktivasi protein kinase, pergerakan fosfolipid, muatan listrik pada permukaan berkurang dan mungkin adhesi eritrositkepada endotel vaskular ikut berperan menyebabkan krisis vaso-oklusif.

            Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantia beta hemoglobin karena hemoglobin A normal mengandung dua rantai alfa dan dua rantai beta, maka terdapat dua gen untuk sintesa tiap rantai. Trail sel sabit hanya mendapat satu gen normal, sehingga sel darah merah masih mampu mensintesa kedua rantai beta, jadi mereka mempunyai hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan tampak sehat.Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa anaknya s bila ada βakan membawa dua gen abnormal dan mempunyai rantai  hemoglobin S, maka anak akan menderita anemia sel sabit.

 

2.7  Pemeriksaan

            Tes diagnostic:

a. Pemeriksaan darah lengkap : retikulosit (jumlah darah bervariasi dari 30% – 50%), leukositos (khususnya pada krisis vaso-oklusit) penurunan Hb/Ht dan total SDM.

b. Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau lengkap, sel bentuk bulan sabit.

c. Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan sifat yang diwariskan (trait)

d. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel trait.

e. LED : meningkat

f. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2

g. Bilirubin serum : meningkat

h. LDH : meningkat

i. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal

j. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang

Anemia, nyeri lambung dan nyeri tulang serta mual-mual pada seorang kulit hitam merupakan tanda yang khas untuk krisis sel sabit.Pada pemeriksan contoh darah dibawah mikroskop, bisa terlihat sel darah merah yang berbentuk sabit dan pecahan dari sel darah merah yang hancur. Elektroforesis bisa menemukan adanya hemoglobin abnormal dan menunjukkan apakah seseorang menderita penyakit sel sabit atau hanya memiliki rantai sel sabit.Penemuan rantai sel sabit ini penting untuk rencana berkeluarga, yaitu untuk menentukan adanya resiko memiliki anak yang menderita penyakit sel sabit.

 

 

 

2.8 Penatalaksana

 

      1.     Obat percobaan telah menunjukkan beberapa hasil yang menjanjikan, mis: hidroksiurea (meningkatkan produksi hemoglobin janin), setiedilsitrat (pengubah membrane SDM), pentoksifilin (menurunkan viskositas darah dan tahananva skulerperifer), dan vanillin (aditif makanan, sifat antisickling).

2.     Nasihatkan populasi berisiko.

3.     Dengan segera atasi infeksi, yang mempredisposisikan pada kritis.

4.     Intruksikan pasien untuk menghindari ketinggian tinggi, anesthesia, dan kehilangan cairan karena dehidrasi meningkatkan sickling.

5.     Berikan terapi asam folat setiap hari untuk meningkatkan kebutuhan sumsum.

 

           Terapi

           Adapun terapi yang dapat dilakukan terhadap penderita anemia sel sabit adalah:

1.     Transfusi darah

Terapi transfuse ini bertujuan untuk menambahkan jumlah hemoglobin normal dalam darah sehingga dapat mencegah proses polimerisasi. Bila penderita kerap kali mengalami krisis, terutama vasooklusi, maka terapi ini perlu dilakukan dalam jangka panjang. Akan tetapi, perlu diperhatikan pula efek samping dari terapi transfuse ini, yaitu terjadinya hyperviscosity, yang disebabkan karena penambahan hematokrit berbanding lurus dengan dengan viskositas darah, hypersplenism, keracunan besi, dan kemungkinan infeksi, yang disebabkan karena screening darah yang kurang akurat.

2.     Terapi gen

Terapi gen ini menggunakan stem cell dan virus sebagai vektornya, Human Immunodefiency Virus(HIV), dan Human Foamy Virus(HFV).

3.     Transplantasi sumsum tulang

4.     Mengaktifkan sintesa HbF

5.     Pemberian agen anti sickling

6.     Penurunan MCHC

Jika terjadi krisis, berikan suasana hangat, infuse salin fisiologik 3 L/hari, atasi infeksi, berikan analgesic secukupnya

 

2.9 Pengobatan

            Saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat mengembalikan bentuk sabit menjadi normal. Oleh karena itu , pengobatan terutama ditujukan pada pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan segera infeksi.Pada tahun 1987, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHBLI) merekomendasikan penggunaan penisilin profilaktik untuk anak-anak kecil untuk mengurangi insidan infeksi pneumokokus (pneumovax) sebaiknya diberikan secara profilaktik karena vaksin inni mengurangi infeksi pneummokokus.  Pengobatan meliputi pemberian antibiotic dan hidrasi dengan cepat dan kuat. Oksigen sebaiknya hanya diberikan jika pasien mengalami  hipoksia. Pemberian suplemen asam folat per hari diperlukan untuk mengisi kehilangan cadangan folat akibat  hemolisis kronis. Krisis nyeri yang terjadi secara tersendiri atau sekunder, akibat infeksi dapat mengenai setiiap bagian tubuh.Inttervensi segera dengan hidrasi dan analgesik opiod dapat menghentikan atau mengurangi lama dan beratnya krisis.Transfusi diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau hemolitik, selama kkehamilan, untuk pembedahan, atau untuk untuk menghentikan nyeri berat.Transfusi tukar dapat digunakan pada pasien-pasien dengan krisis berulang atau kerusakan neurologik, kelebihan beban besi, menjadi masalah, dan pasien-pasien ini memerlukan deferoksamin untuk mengurangi cadangan besinya.

Pada Februari 1998, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyetujui pengungunaan hidroksiurea (Droxia) untuk pengobatan pasien-pasien dengan penyakit sel sabit, terutama untuk pasien-pasien yang berusia  lebih dari 18 tahun yang sering mengalami krisis. Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kadar hemoglobin F di dalam eritrosit. Hemoglobin F tidak membentuk sabit.Penelitian sedang dilakukan untuk memeriksa keamanan hidroksiurea pada pasien-pasien muda menunjukan keberhasilan.Akan tetapi, kurangnya donor dan potensi terjadinya morbiditas pada fase persiapan membatasi usaha ini sebagai pilihan pengobatan bagi sebagian besar pasien (Gelehertr, 1998).

Seringnya timbul krisis memengaruhi keseluruhan kualitas hidup pasien dan keluarganya.Pasien-pasien sering mengalami kecacatan karena nyeri kronis berulang dan kejadian-kejadian penyumbatan pembuluh darah.Pada populasi ini terdapat tingginya insiden ketergantungan obat, serta terdapat juga insiden yang tinggi atas sulitnya mengikuti sekolah atau melakukan pekerjaan.Pendidikan dan bimbingan yang terus-menerus, termasuk bimbingan genetic, penting untuk pencegahan dan pengobatan penyakit sel sabit. Dulu penderita penyakit sel sabit jarang hidup sampai usia diatas 20 tahun, tetapi sekarang ini mereka biasanya dapat hidup dengan baik sampai usia 50 tahun. Penyakit sel sabit tidak dapat diobati, karena itu pengobatan ditujukan untuk:

a). Mencegah terjadinya krisis

b). Mengendalikan anemia

c). Mengurangi gejala.

Penderita harus menghindari kegiatan yang bisa menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah mereka dan harus segera mencari bantuan medis meskipun menderita penyakit ringan, misalnya infeksi virus.Penderita memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya infeksi, sehingga harus menjalani imunisasi dengan vaksin pneumokokus dan Hemophilus influenzae.Krisis sel sabit membutuhkan perawatan di rumah sakit.Penderita mendapatkan sejumlah besar cairan lewat pembuluh darah (intravena) dan obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri.Diberikan transfusi darah dan oksigen jika diperkirakan aneminya cukup berat sehingga bisa menimbulkan resiko terjadinya stroke, serangan jantung atau kerusakan paru-paru.

Keadaan yang mungkin menyebabkan krisi, misalnya infeksi, harus diobati.Obat-obatan yang mengendalikan penyakit sel sabit (misalnya hidroksiurea), masih dalam penelitian.Hidroksiurea meningkatkan pembentukan sejenis hemoglobin yang terutama ditemukan pada janin, yang akan menurunkan jumlah sel darah merah yang berubah bentuknya menjadi sabit. Karena itu obat ini mengurangi frekuensi terjadinya krisis sel sabit. Kepada penderita bisa dicangkokkan sumsum tulang dari anggota keluarga atau donor lainnya yang tidak memiliki gen sel sabit. Pencangkokan ini mungkin bisa menyembuhkan, tetapi resikonya besar dan penerima cangkokan harus meminum obat yang menekan kekebalan sepanjang hidupnya.Terapi genetik, yang merupakan teknik penanaman gen normal ke dalam sel-sel prekursor (sel yang menghasilkan sel darah), masih dalam penelitian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         BAB III

                                                                   PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Penyakit sel sabit tersebut muncul pada mereka yang homiozigot terhadap hemoglobin S (SS). Sel sabit lebih kaku daripada sel darah merah normal dan menghambat aliran pembuluh darah kecil. Kelainan genetic ini menyebabkan mutasi pada gen globin beta sehingga terjadi perubahan struktur DNA. Akibatnya terbentuk hemoglobin S/HbS (normalnya yang terbentuk hemoglobin A/HbA) yang rentan terhadap keadaan kurang oksigen (hipoksia) sehingga dari bentuk normal Hb bulat menjadi seperti bulan sabit, dengan dinding sel darah merah yang rapuh dan tidak elastic, akibatnya sel darah merah dengan HbS ini akan mudah menyangkut pada pembuluh darah yang kecil dan pada akhirnya menjadi cepat dihancurkan oleh limpa karena dianggap abnormal sehingga timbul keadaan anemia. Lama hidup sel sabit menurun hingga 10-30 hari (normalnya 120 hari).

Dengan diagnosa yang mungkin muncul: Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah, yang ditandai oleh: nyeri lokal, menyebar, berdenyut, perih, sakit kepala, Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, yang ditandai oleh: dispnea, gelisah, takikardia, dan sianosis (hipoksia), Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan fibrosis, yang ditandai oleh: penurunan tanda vital, pucat, gelisah, nyeri tulang, angina, dan gangguan penglihatan, Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan, yang ditandai oleh: anoreksia, dehidrasi (muntah, diare, demam), Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi, yang ditandai oleh: turgor kulit buruk, kulit kering, pucat dan Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya, yang ditandai oleh: pertanyaan; meminta informasi; tidak akurat mengikuti intruksi; dan ansietas.

3.2 Saran

1. Sebaik dilakukan penyuluhan sejak dini supaya orang yang terkena anemia sel sabit ini bisa langsung dilakukan penanganan khusus.

2. Dilakukan imunisasi pada setiap anak kecil yang berumur kurang dari 2 tahun.

3. Pemeriksaan yang sangat dianjurkan adalah elektroforesis karena Elektroforesis bisa menemukan adanya hemoglobin abnormal dan menunjukkan apakah seseorang menderita penyakit sel sabit atau hanya memiliki rantai sel sabit.Penemuan rantai sel sabit ini penting untuk rencana berkeluarga, yaitu untuk menentukan adanya resiko memiliki anak yang menderita penyakit sel sabit.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Buku  Sylvia Andersen Princes dan Lormaine Me Caty Wilisorf Patofisiologi Konsep Klinik Proses Penyakit Edisi 2

Buku Patofisiologi Ilmu Penyakit dalam Edisi 2

Buku Sylvia Andersen Princes dan Lormaine Me Caty Wilisorf Patofisiologi Edisi 2

http://m.kompasiana.com/detra18/patologi-osteogenesis-imperfecta-anemia-sel-sabit-dan-fibrosis-kistik diakses pada jam 14.30

http://www.sehatfresh.com/anemia-sel-sabit/ diakses pada jam 14.40

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

Komentar